Jumat, 06 Juli 2018


  Sedikit bercerita tentang pengalaman hidupse semoga dapat menginspirasi.
 
 
,Gagal SBMPTN aku jadi TKW 

Kegagalan seringkali membuat mu ingin musnah saja dari bumi ini, tak ingin muncul ke publik apalagi bertutur sapa dengan teman yang berhasil. Pertanyaan - pertanyaan yang kadang bersifat sensitif selalu menyinggung hati kecil mu yang terkadang itu adalah sebuah bentuk perhatian dari teman mu.
Kuliah dimana?
Ambil Fakultas apa?
Semester berapa?
Terkadang kita merasa cemburu dengan nasib orang lain.
Teringat perjuangan ku kala itu, aku gagal SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri) 2 kali berturut - turut belum lagi dengan jalur masuk yang lain, SNMPTN, Seleksi mandiri, dan lain - lain. 
Kegagalan yang pertama mungkin karena kurangnya persiapan dalam belajar. Tetapi setelah kegagalan itu aku tidak putus asa, ku persiapkan lagi untuk ikut SBMPTN untuk yang kedua kalinya.
Satu tahun ku lewati dengan materi - materi SBMPTN yang sebagian besar adalah materi SMA sedangkan aku adalah anak SMK, tapi tak apalah asal ada niat pasti bisa. Selain belajar waktuku ku bagi dengan mencari uang untuk bekal kuliah juga, meski kadang terasa lelah tapi semua tidak sebanding dengan semangat ku. Pokoknya harus bisa masuk PTN ( Perguruan Tinggi Negri) mengingat ekonomi keluarga yang tidak akan cukup jika harus masuk PTS ( Perguruan Tinggi Swasta).
Ujian di depan mata, akhirnya setelah menanti cukup lama, kembali ku berperang melawan soal - soal SBMPTN yang menurut ku sulit.
Hari pengumumanpun tiba, kolom merah di depan monitor membuat hati ku remuk seketika, bayangan memakai toga hancur sudah. Di situlah aku down di tingkat terbawah.  
Bengkak sudah mata ku 2 hari berlalu dengan keterpurukan, mengingat di antara teman - teman ku akulah orang yang paling semangat untuk kuliah sementara sekarang di antara mereka aku lah orang yang masih tidak jelas arah dan tujuannya.
Hari demi hari berlalu. Kesedihan tak akan usai jika dilalui dengan keterpurukan. Aku mencoba menghibur diri,   mengikuti berbagai komunitas sosial membuat ku mengerti akan pentingnya hidup. Kini bertemu teman-teman ku sudah tidak malu lagi. Aku bekerja dan punya berbagai hal positif yang bisa kulakukan.
Terlalu lama di rumah memudarkan pertanyaan,
Kapan Kuliah?  
berganti menjadi pertanyaan,
Kapan Nikah?
Pertanyaan yang gampang tapi sulit untuk di jawab.
Sebetulnya mau tidak mau semua orang pasti mau jika di tanya akan hal itu. Perjalanan masih panjang, Aku belum memperdulikan akan hal itu, masih bahagia menggapai mimpi, bahagia meski Kegagalan yang selalu menghampiri, toh jodoh sudah ada yang atur kan. (Hehehe)
Kegagalan yang membuat ku bertahan, terkadang aku bertanya - tanya.
Apakah Tuhan Maha Adil?
Tetapi seiring hati ku mampu mengikhlaskan segalanya, pertanyaan 
Adil tidaknya Tuhan? berganti menjadi pernyataan 'Adil tidaknya sesuatu di nilai dari ikhlas tidaknya menerima'
Perjalanan ku belum usai, tahun berikutnya aku mengambil bimbingan bahasa Korea. Menjadi PMI (pekerja migran Indonesia) atau TKW (tenaga kerja wanita) bukanlah cita - cita ku, aku yakin tidak ada yang bercita cita seperti itu juga, tetapi dengan cara itulah aku bisa berusaha mencapai mimpi ku, mimpi ayah dan ibuku.
Satu visi meskipun berbeda misi, mencari batu loncatan bukanlah ide yang buruk. Akhirnya setelah satu tahun belajar bahasa yang tak mudah di pahami aku dinyatakan lulus dalam tahap satu (seleksi tertulis) dan tahap dua (tes kemampuan). 
Semua dapat tercapai karena adanya kata Ikhlas. Ikhlas menerima, ikhlas menjalankan, ikhlas berusaha.
Aku telah melakukan sebisa dan semampu ku sisanya ku pasrahkan pada yang kuasa, insyaallah akan lebih baik. 
Karena memang hidup tidak sesuai ekspektasi, jalani saja apa yang ada di depan dan lakukan sebaik mungkin.
Hidup bukan hanya tentang hal-hal duniawi, melainkan hidup dari siapa? Untuk apa kita hidup? Dan kepada siapa kita kembali?.
So, apapun keadaan mu saat ini syukuri dan ikhlaskan.
Insyaallah sebentar lagi berangkat ke Korea Selatan untuk bekerja di pabrik dan do'akan saja bisa menimba ilmu lagi di sana. Bisa pakai toga dengan senyum bahagia.
Pertanyaan menakutkan selanjutnya bukanlah tentang,
Kapan Kuliah? atau Kapan Nikah?
Tetapi berganti menjadi,
Kapan Terbang ??? 😁😁😁
Sekian
Salam Perjuangan
(Oppho)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar